Ketika Batik Jambi Mengalami “Booming”

Ketika Batik Jambi Mengalami “Booming”
Oleh Irma Tambunan

Pasar batik jambi kembali hidup. Dalam banyak kesempatan, masyarakat tidak malu lagi memakai batik jambi. Dengan beragam motif khasnya, batik jambi kerap dipesan sebagai seragam untuk puluhan ribu karyawan di lingkungan pemerintah daerah maupun instansi swasta.

Bagi wisatawan, berkunjung ke Provinsi Jambi kurang lengkap tanpa membawa oleh-oleh. Pilihannya adalah mendatangi sentra penjualan batik khas di kawasan Simpang Pulai, Kota Jambi. Di sana terdapat banyak pilihan, mulai dari batik tulis, cap, pakaian jadi, hingga kain tenun.

Saat menyusuri toko-toko batik di kawasan ini, Jumat (7/1) pagi, Kompas menyaksikan begitu banyak motif yang tersaji di setiap tempat penjualan. Pada salah satu toko, Mirabella, koleksi yang dimiliki jauh lebih beragam, dengan warna dan bahan yang juga beraneka macam. Angso duo, bungo pauh, atau durian pecah menjadi motif terfavorit.

Harganya pun relatif murah. Satu lembar kain batik cap bermotif Jambi sepanjang 2 meter, ada yang hanya Rp 60.000. Padahal, batik seperti ini semestinya bisa berharga Rp 80.000. Setelah diamati, ternyata semua batik di toko itu harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan di sentra produksi batik kawasan Seberang Kota Jambi.

Setelah berbincang cukup lama dengan pemilik toko, Memet (50), terungkap bahwa batik itu tidak dibuat di Jambi. Walaupun motif dan coraknya khas Jambi, produksinya dilakukan di Solo. ”Setiap ada pesanan, sampel motifnya langsung saya kirim ke Solo. Nanti perajin di Solo yang membuatkan. Kami hanya terima hasil jadi,” ungkap Memet.

Menurut Memet, ada begitu banyak pesanan batik kepadanya, khususnya setelah Gubernur Jambi saat itu, Zulkifli Nurdin, memberlakukan penggunaan batik bagi semua pegawai pemprov pada setiap pekan. Belakangan, kalangan swasta juga menerapkan hal serupa.

Penjualan dan pesanan batik kini mencapai 1.500 lembar per bulan, sedangkan untuk pakaian jadi sekitar 300 buah. Pesanan sebanyak ini tidak mungkin dapat dipenuhi perajin di Jambi yang jumlahnya hanya segelintir.
Karena itu, Memet berinisiatif memesan batik ke Solo. Hasilnya rapi, pekerjaan cepat selesai, dan harga jauh lebih murah. ”Setelah saya hitung-hitung, jauh lebih menguntungkan memproduksi batik di Jawa dan saya bisa menjualnya dengan harga lebih murah,” katanya lagi.

Selain Mirabella, toko batik Berkah, Melati Putih, dan sejumlah toko di Simpang Pulai juga umumnya memproduksi batik mereka di Jawa, seperti Yogyakarta, Pekalongan, dan Bandung. Kondisi seperti ini, menurut mantan pembatik di sentra industri batik Seberang Kota Jambi (Sekoja), Atika, sudah berlangsung lebih dari lima tahun terakhir.

Menurut Atika, booming batik di Jambi memang sedang terjadi, tetapi industri kerajinan batik justru tengah menyurut. Dia mengatakan, dalam lima tahun terakhir banyak perajin yang tidak lagi beroperasi, walaupun perdagangan produk ini terus meningkat. Penyebabnya adalah produk buatan perajin setempat sulit bersaing dengan batik jambi yang dibuat di Jawa.

Harga batik buatan perajin Jambi cenderung lebih mahal dan motifnya dinilai kurang menarik. Itu disebabkan bahan baku masih didatangkan dari Jawa dan ongkos pekerja lebih mahal. ”Ongkos buruh bahkan bisa tiga kali lipat dari ongkos buruh di Jawa. Ada buruh yang harus kami bayar Rp 50.000 per hari, padahal upah buruh di Jawa rata-rata Rp 25.000 saja,” ujarnya.

Jumlah pemilik usaha batik di wilayah Sekoja, yang sebelumnya sekitar 40 orang, kini hanya sekitar 10 orang. Atika mengaku sudah lima tahun tak lagi beroperasi. Ia memilih menjadi pegawai di salah satu bank swasta.
Kurang dukungan
Pembatik tulis di Kelurahan Olak Kemang, Danau Teluk, Azmiah, menyesalkan maraknya produksi batik jambi di Jawa. Namun, ia menilai kondisi itu disebabkan minimnya upaya pemberdayaan dan pembinaan oleh dinas perindustrian dan perdagangan setempat kepada perajin lokal.
Menurut Azmiah, semestinya dinas mengantisipasi kemungkinan booming batik jambi, dengan cara terlebih dahulu memapankan industri batiknya. Pembatik yang telah ada harus terus dibina dan dinas perlu mencetak perajin-perajin baru. Ini supaya ketika pesanan batik membeludak, industri yang ada telah siap, bukannya malah melempar pesanan ke luar daerah seperti yang terjadi sekarang ini. ”Perajin kita sebenarnya banyak, tapi pembinaan terhadap mereka sangat kurang,” ujarnya.

Selain minimnya pembinaan, lanjut Azmiah, bantuan bagi perajin juga sering kali tidak tepat sasaran. Ia mencontohkan, bantuan 100 kompor listrik untuk proses pembatikan diterima oleh sebagian perajin yang tidak lagi beroperasi, sedangkan perajin yang masih aktif malah tidak dapat bantuan kompor.
”Contohnya, perajin yang saya bina ada 38 orang, hanya empat orang yang mendapat bantuan kompor. Tetapi, banyak yang bukan perajin malah mendapat bantuan,” katanya.

Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi tahun 2009, jumlah perajin batik di daerah itu mencapai 224 orang, dengan jumlah unit usaha 49. Para perajin ini tersebar di Kota Jambi 129 orang, Batanghari (52), Sarolangun (15). Sedangkan di Kabupaten Merangin ada 10 orang, Tebo (4), dan Bungo (14). Secara keseluruhan, nilai investasi industri batik di Jambi mencapai Rp 588 miliar. Kapasitas produksi mencapai 92.773 meter per tahun.
Dosen Program Magister Ekonomika Pembangunan Pascasarjana Universitas Jambi, Profesor M Rahmat, berpendapat, bisnis batik jambi semakin marak, tapi kondisi itu tidak seiring dengan pertumbuhan jumlah unit usaha kerajinan itu. ”Jumlah UKM batik justru semakin berkurang,” tuturnya.

Itu berarti, pemerintah perlu memberikan dukungan untuk mengangkat sektor industri batik di Jambi. Tidak hanya bantuan biaya, tetapi juga perlu ada pendampingan teknis melalui tenaga penyuluh. Itu harus dilakukan berkelanjutan, sampai industri batik di Jambi mencapai titik mapan sehingga tidak perlu lagi jauh-jauh memproduksikan batik jambi di Jawa.

Sumber artikel: http://kompas.com

Sumber Foto: http://photojambi.com/batik-jambi/

About sulastama
Sulastama Raharja, Graduated from Geological Engineering, Gadjah Mada University. Development Geologist in Bekasap South AMT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: