Lahirnya “Jonegoroan”, Batik Motif Bojonegoro

Lahirnya “Jonegoroan”, Batik Motif Bojonegoro
Myrna Ratna

Sebuah kota kecil yang permai. Di pinggiran kota, hamparan sawah hijau mengapit lintasan kereta api yang menghubungkan kota-kota di lintasan utara Pulau Jawa. Pohon-pohon jati yang menjulang memayungi pinggiran jalan dan rumah-rumah tradisional yang khas. Rumah-rumah yang terbuat dari kayu jati dengan jendela yang terbuka di tengah-tengahnya. Ayam, bebek, berkeliaran bebas di halaman rumah. Sementara sapi kadang mendapat tempat ”terhormat” di dalam ruangan.

Kenyamanan itu berlanjut sampai ke pusat kota. Bojonegoro, yang pada 2010 mendapat penghargaan Adipura, terasa betul menjaga citranya sebagai kota yang bersih. Kota kecil yang ”terjepit” di antara Tuban dan Lamongan itu tak ubahnya oase bagi mereka yang melintas ke ujung Jawa Timur.

Di sebuah rumah di pinggir jalan raya Prayungan, Kecamatan Sumberrejo, kesibukan sudah berlangsung sejak pagi hari. Mereka adalah para pembatik tulis maupun cap yang tekun bekerja. Tak terdengar banyak percakapan di situ. Mata dan tangan terfokus pada gambar yang ditorehkan di kain mori.

Meskipun di kota ini tak ada tradisi membatik yang turun-menurun, semangat memproduksi batik begitu menggebu dalam setahun terakhir. Diawali ketika satu demi satu kota di Jawa Timur memproklamirkan daerahnya sebagai produsen batik dengan motif yang dipatenkan sebagai motif ”khas” milik daerahnya. Semangat itu pun menjalar ke Kabupaten Bojonegoro.

Tahun 2010, lewat dukungan istri Bupati Bojonegoro, Maffudoh Suyoto, Tim Penggerak PKK setempat mengadakan lomba desain batik. Dari ratusan karya yang masuk, akhirnya sembilan desain ditetapkan sebagai motif batik Bojonegoro, alias Jonegoroan.

”Kami kemudian mengadakan pelatihan batik di Dander. Ada 20 orang yang ikut pelatihan, mereka dari desa-desa Purwosari, Prayungan, Jono, Temayang, dan Mojoranu. Pelatihnya kami datangkan dari Pekalongan,” kata Pudji Rahaju, SPd, MPd (Yayuk), guru SMA yang kini merangkap pengusaha batik.

Untuk belajar kualitas warna, termasuk memperoleh warna yang tepat dan tidak luntur, sebagian dari mereka belajar ke Balai Batik Yogyakarta. ”Setelah itu kami langsung diminta untuk berproduksi. Modal saya saat itu sekitar Rp 7 juta untuk membeli alat dan bahan,” lanjut Yayuk yang menggarap perajin di kawasan Prayungan.

Dukungan luas
Semangat berbatik dan bangga memakai batik buatan daerah sendiri langsung digalakkan. Para pegawai pemerintah kabupaten diwajibkan mengenakan batik Jonegoroan setiap Kamis dan Jumat. Sementara murid sekolah mengenakan seragam batik sehari dalam sepekan.

Industri baru ini pun berkembang cepat. Yayuk, misalnya, kini mengaku agak kewalahan menerima pesanan seragam untuk sekolah menengah atas. ”Kami sedang mengerjakan batik cap untuk seragam SMA 1, SMA 2, SMA 4, pesanan datang sekaligus. Belum lagi pihak rumah sakit Bojonegoro juga memesan sampai 600 potong. Alhamdulillah, saat ini uang bisa berputar lebih cepat,” kata Yayuk.

Nani Rusetiani (50), pegawai Dinas Kominfo Bojonegoro, juga menjadi penggerak pengembangan batik di kota itu. ”Persoalan utama waktu itu adalah setelah kita melansir sembilan motif batik, lalu bagaimana memproduksinya? Saya rela menguras tabungan agar industri ini betul-betul berputar. Saya belajar ke Pekalongan, kemudian beli peralatan untuk membangun pembuatan batik cap, juga mengumpulkan kain, bahan pewarna, dan lain-lain, pokoknya semuanya dimulai dari nol,” tuturnya.

Nani memfokuskan pembinaan perajin di Desa Mojosari, Desa Ngumpak Dalem, Desa Sidobandung, dan di lembaga pemasyarakatan. Para perajinnya sehari bisa menghasilkan 100 sampai 200 potong batik cap.

”Permintaan dari luar kota, seperti Madiun dan Surabaya, terus berdatangan. Kadang datang rombongan yang khusus datang ke Bojonegoro dengan bus pariwisata. Menurut mereka, batik Jonegoroan menarik karena warna-warnanya yang cerah,” lanjutnya.

Kerja keras Yayuk, Nani, dan rekan-rekannya yang lain sudah mulai berbuah. Perputaran uang dalam sebulan bisa mencapai Rp 400 juta, dengan keuntungan Rp 10 juta sampai Rp 20 juta. Keuntungan itu masih diputar kembali untuk membeli kain mori, malam, dan bahan pewarna.

Jadi, bila ada kota yang sebelumnya memiliki tradisi membatik tapi kemudian mati karena berbagai sebab, seharusnya berkaca pada pengalaman Bojonegoro. Masyarakat di sini tak mengenal kata mustahil untuk memulai.

Sumber: http://female.kompas.com/read/2011/03/28/1045116/Lahirnya.Jonegoroan.Batik.Motif.Bojonegoro

About sulastama
Sulastama Raharja, Graduated from Geological Engineering, Gadjah Mada University. Development Geologist in Bekasap South AMT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: