ACFTA DAN “MAINSTREAMING” BATIK MADURA

ACFTA DAN “MAINSTREAMING” BATIK MADURA
Fathor Rahman Jm

Tidak banyak masyarakat Indonesia yang kenal batik madura. Demikian pula masyarakat Jawa Timur. Pembicaraan mengenai batik selama ini didominasi daerah-daerah Jawa Tengah, misalnya Solo, Klaten, Pekalongan, dan lain-lain. Selama ini, Madura hanya terkenal dengan garam dan karapan sapi. Padahal, Pulau Madura merupakan salah satu sentra batik di Indonesia yang tidak kalah bergairahnya dengan daerah-daerah lain.

Di Madura, membatik merupakan budaya yang diwariskan secara turun- temurun, dengan hasil karya yang memiliki nilai seni bercita rasa tinggi. Menurut Ketua Komunitas Batik Surabaya Lintu Tulistyantoro, batik madura sangat ekspresif dibanding batik jawa pada umumnya (Kompas, 3/06/2010). Karakter ekspresif tersebut merupakan cermin dari watak masyarakat Madura yang bebas berekspresi, tegas, pekerja keras, ulet, dan berterus terang.

Oleh sebab itu, meski tampak kasar, bukan berarti batik madura murahan. Batik gentongan yang bisa ditemukan di Tanjung Bumi, Bangkalan, misalnya, di tingkat perajin saja harganya bisa mencapai jutaan rupiah per lembar. Keistimewaan batik ini, semakin lama warnanya semakin cerah.

Hal itu menunjukkan bahwa industri batik di Madura sangat potensial secara ekonomi. Setiap hari terdapat ribuan lembar kain batik yang dihasilkan dari daerah-daerah mulai paling barat hingga paling timur Madura. Beroperasinya Suramadu sejak 9 Juni 2009 dan dikukuhkannya batik sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia oleh UNESCO merupakan peluang yang cukup baik bagi pelaku industri rumahan tersebut.

Namun, tantangan yang perlu diperhatikan oleh pelaku industri batik dan pemerintah daerah setempat adalah diberlakukannya Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China (ACFTA) sejak 1 Januari 2010. Dalam menghadapi ACFTA, banyak pihak, khususnya dari Indonesia, yang harap-harap cemas. Sebelum kesepakatan ini diimplementasikan, sebenarnya sudah banyak pelaku ekonomi dalam negeri yang paranoid terhadap serbuan komoditas asal China.

Selain memiliki banyak variasi produk, China juga mampu menekan biaya produksi dan distribusi seefisien mungkin sehingga bisa menekan harga produk serendah-rendahnya. Implementasi ACFTA dapat mengurangi hambatan arus perdagangan dan investasi antarnegara anggota. Sebab, dalam ACFTA juga terdapat kesepakatan Common Effective Preferential Tariff (CEPT). Inti dari CEPT dalam persetujuan ACFTA adalah pengurangan berbagai tarif impor dan penghapusan hambatan non- tarif atas perdagangan dalam lingkup ASEAN dan China. Hal ini memungkinkan negara anggota bisa lebih mengefisienkan biaya distribusi.

Akibatnya, harga produk impor, khususnya dari China, bisa jadi akan jauh lebih murah dari produk lokal dalam negeri. Hal ini akan menyebabkan persaingan yang timpang, dan kemudian akan disusul frustasi kelesuan dunia usaha dalam negeri. Kelesuan dunia usaha akan menyebabkan tidak betahnya investor asing.

Bahkan, bukan tidak mungkin para pelaku industri lokal dalam negeri akan beralih profesi menjadi penyedia jasa impor. Logikanya, buat apa memproduksi barang kalau menjadi importir lebih menguntungkan.

Oleh karena itu, pemerintah daerah setempat harus tanggap dan progresif dalam merespons peluang dan tantangan ekonomi tersebut. Langkah-langkah berikut dapat dilalui dalam kerangka melestarikan dan melindungi dunia industri batik rumahan di Madura.

Pertama, pemerintah perlu berupaya mengarusutamakan (mainstreaming) batik madura. Sosialisasi mengenai eksotisme batik madura tidak boleh kalah dengan gencarnya sosialisasi mengenai budaya karapan sapi, pariwisata alam, dan lain sebagainya.

Kedua, pemerintah perlu banyak berperan dalam menstimulus peningkatan produksi batik. Pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan jumlah dan keterampilan pembatik sangat perlu digalakkan. Yang tak kalah pentingnya adalah memberikan sentuhan-sentuhan inovasi dengan mendayagunakan teknologi canggih.

Ketiga, pemerintah harus menyelesaikan masalah kekurangan modal. Inilah masalah paling akut yang dihadapi para pelaku industri rumahan di Madura. Mereka umumnya adalah masyarakat miskin yang kurang mendapatkan akses terhadap lembaga-lembaga keuangan konvensional yang mensyaratkan agunan dalam peminjaman modal.

Keempat, pemerintah perlu juga berperan menjadi “sales” batik madura. Artinya, pemerintah bisa menjadi fasilitator atau mediator antara produsen batik Madura dengan para konsumen, baik di dalam negeri maupun mancanegara. Sebagai sales, pemerintah perlu menjalankan fungsi promosinya semaksimal mungkin.

Strategi-strategi ini dapat ditempuh selain diharapkan agar dapat menggunakan peluang sebaik mungkin, juga dimaksudkan untuk menjawab tantangan-tantangan ekonomi yang bisa jadi berupa “implikasi negatif” dari implementasi AFTA+China. Fathor Rahman Jm Pengamat Sosial Ekonomi Madura

Sumber: http://female.kompas.com

About sulastama
Sulastama Raharja, Graduated from Geological Engineering, Gadjah Mada University. Development Geologist in Bekasap South AMT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: